Thursday, November 17, 2005
..............
aku cuma punya cinta sederhana
yang kubiarkan telanjang
apa adanya
yang kubiarkan telanjang
apa adanya
Saturday, September 03, 2005
miris
Berita itu cepat sekali menyebar
ada maling........
dalam waktu singkat pintu masuk ruko sudah dipadati orang-orang terminal.
muka-muka marah
tampang-tampang beringas
wajah-wajah yang sudah tak sabar ingin menghajar terlihat jelas dari balik kaca.
"Keluarin aja mas......... "
Dan dalam waktu singkat lelaki muda itu akan hancur lebur dikeroyok massa !
tak mungkin saya biarkan hal itu terjadi
Saya jadi serem melihat reaksi orang-orang pinggiran, orang-orang yang menghabiskan waktu di terminal, sama seperti saya - mendengar kata maling.
Mereka berhasrat sekali menghajar.
Mungkin karena kehidupan keras yang mereka jalani setiap hari.
Berusaha mengumpulkan lembar demi lembar ribuan kucel,
bermandikan butiran keringat dibawah terik matahari dan debu.
Sungguh miris,
maling yang cuma nyolong RAM, yang harganya cuma berapa lembar lima puluh ribuan (bukan membenarkan, tapi sekedar membandingkan) mendapat perlakuan sedahsyat itu.
Seandainya para koruptor yang nyolong bermilyar-milyar itu juga mendapat perlakuan yang sama......
ada maling........
dalam waktu singkat pintu masuk ruko sudah dipadati orang-orang terminal.
muka-muka marah
tampang-tampang beringas
wajah-wajah yang sudah tak sabar ingin menghajar terlihat jelas dari balik kaca.
"Keluarin aja mas......... "
Dan dalam waktu singkat lelaki muda itu akan hancur lebur dikeroyok massa !
tak mungkin saya biarkan hal itu terjadi
Saya jadi serem melihat reaksi orang-orang pinggiran, orang-orang yang menghabiskan waktu di terminal, sama seperti saya - mendengar kata maling.
Mereka berhasrat sekali menghajar.
Mungkin karena kehidupan keras yang mereka jalani setiap hari.
Berusaha mengumpulkan lembar demi lembar ribuan kucel,
bermandikan butiran keringat dibawah terik matahari dan debu.
Sungguh miris,
maling yang cuma nyolong RAM, yang harganya cuma berapa lembar lima puluh ribuan (bukan membenarkan, tapi sekedar membandingkan) mendapat perlakuan sedahsyat itu.
Seandainya para koruptor yang nyolong bermilyar-milyar itu juga mendapat perlakuan yang sama......
Friday, September 02, 2005
maling
Sore itu dia datang kembali,
lelaki muda berambut ikal, berkaos oblong dan jeans belel.
Tak banyak cakap, cuma duduk di pojok ruangan, dibawah AC dan asyik berselancar di dunia maya.
Tak pernah lama.
Setengah jam berlalu,
saya dikejutkan oleh suara berisik dari pojok ruangan tempat lelaki hitam manis itu bersemayam
pletak........ pletak.........pletak............
sekeras itukah dia pencet keyboard ?
marahkah ?
atau ?
kemudian dia beranjak ke arah saya
aduh........
deg-degan nih..........
there must be something wrong batin saya.....
ternyata,
RAM pc saya sudah melayang !
lelaki muda berambut ikal, berkaos oblong dan jeans belel.
Tak banyak cakap, cuma duduk di pojok ruangan, dibawah AC dan asyik berselancar di dunia maya.
Tak pernah lama.
Setengah jam berlalu,
saya dikejutkan oleh suara berisik dari pojok ruangan tempat lelaki hitam manis itu bersemayam
pletak........ pletak.........pletak............
sekeras itukah dia pencet keyboard ?
marahkah ?
atau ?
kemudian dia beranjak ke arah saya
aduh........
deg-degan nih..........
there must be something wrong batin saya.....
ternyata,
RAM pc saya sudah melayang !
Saturday, August 20, 2005
kembang plastik
Semenjak ngungsi di cibening, saya sering berkunjung ke pemakaman umum pondok kelapa. Bukan mau nyekar, tapi karena rute jalan pagi yang paling gampang dan nyaman ya ke arah kuburan itu :)
Sebuah komplek rumah masa depan yang cukup tertata rapi.
Memasuki areal pemakaman, kesan angker sama sekali tak terasa (terang aja, pagi ! hehehhehe....). Malah areal parkirnya digunakan untuk senam para manula. Anak-anak sekolah bergerombol memenuhi jalanan utama dan para pejogging menyusuri jalan-jalan di sela makam.
Saya jadi bertanya-tanya, penghuni makamnya rela gak ya tempatnya dijadiin sarana olahraga ? atau jangan-jangan ikutan olahraga juga hihihihihi.......
maap......
maap......
Berbeda dengan pemakaman lain yang banyak ditumbuhi pohon kamboja, di kompleks makam ini saya cuma menjumpai dua pohon kamboja. Justru disini banyak saya temui bunga-bunga beraneka warna yang bertebaran disisi batu nisan.
hm....
romantis banget
*kok romantis sih ?*
pasti anggota keluarganya perhatian dan sayang sekali, sampai-sampai rutin mengirimkan bunga setiap saat.
tapi
ternyata
bunga-bunga itu
cuma kembang plastik !
bapak,
ibu,
om,
tante,
sebenarnya kembang palsu itu dipersembahkan untuk para almarhum, atau cuma sekedar hiasan aja supaya kuburannya lebih meriah ?
Sebuah komplek rumah masa depan yang cukup tertata rapi.
Memasuki areal pemakaman, kesan angker sama sekali tak terasa (terang aja, pagi ! hehehhehe....). Malah areal parkirnya digunakan untuk senam para manula. Anak-anak sekolah bergerombol memenuhi jalanan utama dan para pejogging menyusuri jalan-jalan di sela makam.
Saya jadi bertanya-tanya, penghuni makamnya rela gak ya tempatnya dijadiin sarana olahraga ? atau jangan-jangan ikutan olahraga juga hihihihihi.......
maap......
maap......
Berbeda dengan pemakaman lain yang banyak ditumbuhi pohon kamboja, di kompleks makam ini saya cuma menjumpai dua pohon kamboja. Justru disini banyak saya temui bunga-bunga beraneka warna yang bertebaran disisi batu nisan.
hm....
romantis banget
*kok romantis sih ?*
pasti anggota keluarganya perhatian dan sayang sekali, sampai-sampai rutin mengirimkan bunga setiap saat.
tapi
ternyata
bunga-bunga itu
cuma kembang plastik !
bapak,
ibu,
om,
tante,
sebenarnya kembang palsu itu dipersembahkan untuk para almarhum, atau cuma sekedar hiasan aja supaya kuburannya lebih meriah ?
Friday, August 19, 2005
tamu sore hari
Sore itu datang seorang bapak berkaca mata hitam dituntun anaknya yang masih kecil ke tempat saya. Dengan meraba-raba tas hitamnya dia mengeluarkan contoh surat dan minta dibuatkan surat serupa pada saya. Intinya mohon kepada pimpinan gereja HKBP agar utusan mereka diperbolehkan menjual kaset lagu rohani di gereja untuk membiayai kontrakan rumah para tunanetra yang berprofesi sebagai pemijat serta biaya sekolah anak-anak mereka.
Dengan tangkas saya terima tantangan itu, dan kesepuluh jari tangan saya menari-nari diatas keyboard dengan lincah. Tak lama, selembar kertas pun meluncur dari printer mungil di samping kompie saya.
“Berapa mas ?”
“Gak usah pak” jawab saya
“Ah mas ini....” ujarnya sambil mengucapkan terima kasih.
Tentu saja naluri bisnis saya terkubur, dikalahkan oleh rasa salut atas
kemauan dan solidaritas mereka untuk tetap survive tanpa menadahkan tangan.